Sukanto Tanoto Berkomitmen Wujudkan Praktek Sawit Berkelanjutan Lewat Aliansi SUSTAIN

Sukanto Tanoto Berkomitmen Wujudkan Praktek Sawit Berkelanjutan Lewat Aliansi SUSTAIN post thumbnail image

Sumber: pexels.com

Setiap perusahaan yang beroperasi di suatu negara memiliki kewajiban moral untuk membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar. Tuntutan tersebut semakin besar pada perusahaan berbasis alam. Hal senada juga berlaku pada perusahaan perkebunan dan pengolahan minyak sawit. Meski demikian, Sukanto Tanoto dan grup bisnis yang dipimpinnya memandang hal tersebut sebagai sebuah kesempatan untuk berkontribusi.

Dalam menjalankan bisnisnya, Sukanto Tanoto selalu berpegang pada azas kemanfaatan pada sesama dan lingkungan. Praktek program pertanggungjawaban sosial (CSR) rutin dilakukan. Bahkan demi membantu mewujudkan praktek industri sawit berkelanjutan, salah satu unit bisnis Sukanto Tanoto, yakni Apical menginisiasi lahirnya sebuah aliansi yang beranggotakan perusahaan-perusahaan perkebunan dan pengolahan sawit bernama SUSTAIN.

Mengenal Aliansi SUSTAIN

Istilah sustain memiliki arti menopang. Dalam bahasa Inggris, sustain sendiri merupakan akar kata dari sustainable dan sustainability. Dua kata yang selalu didorong oleh grup bisnis Royal Golden Eagle (RGE) pimpinan Sukanto Tanoto. Dalam hal ini, aliansi SUSTAIN juga memiliki motif dan semangat yang sama.

Aliansi SUSTAIN (Sustainability Assurance & Innovation Alliance) merupakan sebuah aliansi yang beranggotakan perusahaan-perusahaan perkebunan dan pengolahan sawit yang berbasis di Indonesia. Aliansi ini berdiri secara resmi pada tanggal 7 September 2018 dan masih bertahan hingga kini.

Dari grup RGE, ada dua unit bisnis yang menjadi bagian dari aliansi SUSTAIN. Kedua unit bisnis Sukanto Tanoto tersebut meliputi Apical dan Asian Agri. Namun selain diisi oleh perusahaan dari grup RGE, ada juga perusahaan lain yang turut menjadi bagian dari aliansi ini. Perusahaan-perusahaan tersebut di antaranya adalah Neste, KAO Corporation, CORE dan SAP.

Dorong Industri Sawit Berkelanjutan Lewat Transparansi

Salah satu isu yang kerap disinggung dalam praktek industri yang berkelanjutan adalah transparansi. Bagaimana publik, stakeholder ataupun calon konsumen bisa mengetahui perusahaan benar-benar menerapkan praktek bisnis yang berbasis pada prinsip-prinsip berkelanjutan? Isu inilah yang menjadi perhatian aliansi yang diinisiasi oleh perusahaan Sukanto Tanoto.

Untuk menjawab tantangan tersebut, SUSTAIN memiliki cara yang cukup menarik. Sebagai bukti komitmennya, perusahaan-perusahaan yang menjadi bagian dari aliansi SUSTAIN sepakat untuk lebih transparan dalam rantai produksi.

Transparansi rantai produksi ini membuka segala informasi terkait proses produksi itu sendiri mulai dari asal sumber bahan baku hingga menjadi sebuah produk. Publik bisa melihat dari mana asal bahan baku yang digunakan. Apakah sawit yang digunakan benar-benar berasal dari sumber-sumber terbarukan, semua itu kini menjadi semakin terbuka.

Teknologi Blockchain Sebagai Fondasi Transparansi Rantai Produksi

Aliansi SUSTAIN merupakan sebuah aliansi yang cukup besar. Beranggotakan perusahaan-perusahaan besar, tantangan untuk mewujudkan transparansi jelas tidak sedikit. Transparansi dalam skala besar seperti ini hanya bisa diwujudkan dengan memanfaatkan teknologi yang tepat. Dalam hal ini, aliansi yang diinisiasi oleh perusahaan Sukanto Tanoto tersebut memilih blockchain sebagai fondasinya.

Pemilihan teknologi blockchain sebagai fondasi transparansi rantai produksi bukan tanpa alasan. Teknologi ini memiliki sistem penyimpanan data yang tersebar dan unggul dalam hal aksesibilitas.

Teknologi blockchain juga mampu melindungi data yang tersimpan dengan baik. Hal tersebut tidak lepas dari penerapan basis data yang tersebar. Jadi meski ada salah satu perangkat penyimpanan yang bermasalah, masih ada perangkat penyimpanan lain yang menyimpan salinan data.

SUSTAIN merupakan salah satu langkah yang diambil grup bisnis pimpinan Sukanto Tanoto dalam mendorong terwujudnya praktek industri sawit yang berkelanjutan. Ke depannya, tentu diharapkan ada semakin banyak perusahaan perkebunan dan pengolahan sawit yang bergabung atau setidaknya mengikuti langkah serupa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *